Rabu, 15 September 2010

KETEGUHAN HATI SEORANG ANAK RAJA

Raja Louis XVI telah digulingkan dari tahtanya oleh orang-orang yang mengkudeta kerajaan dan menjebloskannya ke dalam penjara. Setelah itu sang pangeran yang merupakan pewaris takhta diculik.

Kelompok yang melakukan kudeta berusaha dengan berbagai cara agar pangeran tidak menjadi Raja. Mereka tidak melakukan kekerasan terhadapnya. Tetapi berusaha merusak moralnya dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sepatutnya. Jika pangeran termakan godaan mereka dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar moral, maka ia tidak mungkin naik takhta.

Setiap hari mereka menjejali sang pangeran dengan makanan enak dan mewah yang jumlahnya sangat banyak. Mereka juga menyediakan minuman beralkohol dan para gadis yang menari erotis. Tak jarang, mereka mengucapkan kata-kata kotor dan kasar yang tidak biasa didengar oleh sang pangeran. Mereka melakukannya terus menerus dengan harapan sang pangeran akan terpengaruh menjadi liar dan nakal.

Namun sang pangeran sama sekali tak tergoyahkan. Dia tetap makan secukupnya, menjaga kesehatannya dengan berolahraga, tidak meminum minuman beralkohol, tidak tidur dengan salah seorang penari erotis dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor dan kasar.

Melihat hal itu, para pengkudeta bertanya kepada sang pangeran.
"Mengapa kamu tak tergoyahkan sama sekali? Mengapa kamu tetap bisa hidup sebagai seorang pangeran baik-baik?"

"Ayahku adalah seorang raja dan aku dilahirkan sebagai seorang pangeran yang sudah ditetapkan menjadi raja. Jadi, tidak mungkin aku mau melakukan perbuatan menjijikkan seperti itu. Itu bukan kebiasaan seorang anak Raja."

Jika kita memegang prinsip ini dan menyadari bahwa kita adalah anak-anak Raja yaitu anak-anak Tuhan, maka kita tidak akan terpengaruh untuk melakukan perbuatan tercela. Sekalipun dunia memengaruhi kita dengan kuat, tetaplah berdiri teguh.

Note : MENYADARI SIAPA KITA SESUNGGUHNYA ADALAH SALAH SATU CARA MENJAGA DIRI DARI KECEMARAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar