Rabu, 15 September 2010

LAYAK DI HADAPAN MANUSIA BUKAN BERARTI KAMU JUGA LAYAK DI HADAPAN TUHAN.

Suatu hari, Ferdi mendatangi kakeknya yang tinggal di sebuah lereng gunung, di rumahnya yang sederhana. Kakeknya memang sengaja pindah ke desa terpencil begitu memasuki masa pensiun. Ia ingin menikmati masa tuanya di tempat yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota besar. Kakeknya memang orang yang sangat sederhana, meskipun dia memiliki banyak tanah dan harta.

Karena penasaran akan gaya hidup yang dipilih kakeknya itu, Ferdi pun bertanya :"Kek, kenapa sih kakek berpenampilan seperti ini? Padahal, di jaman sekarang orang berlomba-lomba untuk memiliki penampilan yang baik."

Sambil tersenyum si kakek melepaskan kalung yang dikenakannya dan menyerahkannya kepada Ferdi. Kakek berkata : "Bawa kalung ini ke pasar dan jual dengan harga satu keping emas."

"Yaah...kakek...! Gimana mungkin orang mau beli kalung ini dengan harga satu keping emas? Kayaknya kalung ini gak ada harganya deh." Ferdi berkata heran. Dia menimang-nimang kalung itu.

"Coba kamu tawarkan dulu..Belum dicoba kok sudah bilang gak ada harganya." Ujar si kakek sambil mengedipkan mata penuh arti.

Ferdi pun mengantongi kalung itu dan pergi ke pasar di pusat kota. Ia menawarkan kalung itu kepada pedagang tempe, pedagang daging ayam, pedagang kain dan pedagang buah-buahan tetapi mereka semua menolak membeli kalung itu.

Ferdi pulang dengan kecewa dan tubuh lelah. Dia mengeluh kepada kakeknya.
"Tuh, kan saya bilang juga apa, kek. Kalung ini gak ada harganya. Gak ada seorangpun pedagang yang mau membelinya."

"Kalau begitu, coba kamu tawarkan ke toko emas yang ada di pasar itu." Ujar kakek.

Ferdi mentaati perintah kakeknya. Ia kembali ke pasar dan menawarkannya kepada pemilik toko emas. Tak lama berselang, ia pulang menemui kakeknya.

"Kek..Kakek...saya berhasil menjual kalung itu. Ternyata pedagang di pasar tidak tahu menilai barang yang mahal. Hanya si pemilik toko emas yang mengerti akan nilai kalung itu. Dia berani membelinya dengan harga 10 keping emas. " Ujar Ferdi girang.

Kakek tertawa. "Nah, sekarang pertanyaanmu sudah terjawab cucuku....Kita tak bisa menilai orang dari pakaiannya. Para pedagang lain memiliki penilaian yang rendah terhadap kalung itu karena penampilan kalung itu tidak menarik. Mereka berpikir, kalung itu tak ada harganya sama sekali jadi untuk apa dibeli walau hanya dengan satu keping emas. Tetapi pedagang emas tidak. Ia bisa menilai dengan baik betapa berharganya kalung itu sehingga berani membelinya dengan harga 10 keping emas."

Mendengar penjelasan sang kakek, Ferdi pun manggut-manggut mengerti.

Well, jangan pernah menilai orang berdasarkan penampilan fisiknya. Karena itu adalah filosofi dunia. Jangan pula menentukan nilai diri kamu berdasarkan mewahnya tempat tinggal, pakaian dan penampilan fisik kamu,karena Tuhan tidak pernah menilai kamu berdasarkan itu. Tuhan melihat kedalaman hati seseorang. Ia melihat sikap hati dan apa yang kamu pikirkan. Begitu banyak orang yang memiliki pola penilaian yang salah baik terhadap sesama maupun diri sendiri.

Mari menilai segala sesuatu berdasarkan penilaian Tuhan, sehingga kita akan mengejar apa yang bernilai bagi Tuhan dan bukan apa yang bernilai bagi manusia. Niscaya, kita akan dapatkan penghargaan yang layak dari Tuhan.

NOTE : LAYAK DI HADAPAN MANUSIA BUKAN BERARTI KAMU JUGA LAYAK DI HADAPAN TUHAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar