Selasa, 14 September 2010

PENGACARA TELANJANG KAKI

Dewo adalah seorang pengacara yang sangat terkenal. Klien-kliennya berasal dari kalangan berada. Beberapa pejabat dan selebritis juga sering menggunakan jasa hukum dari kantor Dewo. Tak heran, bila Dewo memiliki kekayaan yang berlimpah. Rumahnya megah bak istana. Mobilnya lebih dari lima dan semuanya mobil mewah. Dalam setahun, Dewo dan keluarganya bisa beberapa kali melancong ke luar negeri. Dan, jangan ditanya soal pakaian, sepatu dan tas yang ia pakai. Semuanya barang branded dan berkelas.

Namun suatu hari, ketika sedang mengadakan meeting dengan para kliennya, Dewo dengan diam-diam melepaskan sepatu mahal yang ia kenakan. Bahkan, kaus kakinya pun ia copot. Karena Dewo duduk di ujung meja meeting yang sangat besar dan panjang, tak seorang pun klien melihat kakinya yang telanjang.

Namun, sekretaris Dewo yang duduk di dekatnya melihat perbuatan sang boss. Dengan alis berkerut, sang sekretaris berkata lirih kepada Dewo.

"Pak..kenapa dilepas sepatunya?"

Dewo tersenyum dan menjawab tak kalah lirih. "Nanti setelah para klien pulang, akan saya beritahu alasannya."

Tentu saja jawaban Dewo membuat sang sekretaris penasaran. Segera setelah meeting selesai dan para klien meninggalkan kantor, sang sekretaris menghampiri Dewo.




"Hm...kamu sepertinya sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan saya soal sepatu kan?" Tanya Dewo geli melihat wajah sekretarisnya yang penasaran setengah mati.

"Iya, pak...Sebagai pengacara terkenal, kelakuan Bapak sangat aneh. Bagaimana jika para klien melihatnya?" Ujar sang sekretaris.

"Well, semua ini saya lakukan karena dulu saya adalah seorang pengacara yang sombong. Saya suka bangga dengan diri saya dan selalu menganggap remeh orang lain. Saya tidak pernah mau melayani klien-klien yang tak mampu. Hingga suatu hari, seorang mantan dosen saya mengatakan bahwa saya adalah seorang pengacara yang hebat tetapi terlalu sombong. Katanya, saya seperti kacang lupa kulitnya. Saya lupa siapa diri saya sebelum menjadi pengacara terkenal."

Dewo berhenti sejenak. Matanya tampak mulai berkaca-kaca.

"Kata-kata dosen saya menyentakkan saya. Membuat saya teringat bahwa saya adalah seorang anak pembantu. Saya bisa seperti ini karena belas kasihan majikan ibu saya yang telah menyekolahkan saya hingga berhasil menjadi Sarjana Hukum. Sejak saat itu, setiap kali kesombongan mulai menggoda saya, maka saya akan melepaskan sepatu saya. Agar setiap kali saya memandang ke bawah, saya menyadari bahwa saya ini adalah anak seorang pembantu. Cara ini membantu saya untuk tetap rendah hati."

Manusia sering tergoda untuk bersikap sombong, terlebih jika mencapai kesuksesan. Bila kesombongan mulai menguasai diri, segera lakukan sesuatu yang bisa menyadarkan kita untuk bersikap rendah hati. Tanpa adanya kesadaran, maka kita akan tetap hidup dalam kesombongan.

Note : KESOMBONGAN HANYA AKAN MEMBUAT KITA JATUH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar